Study Tour vs Study School
Study tour dilaksanakan pada tanggal 1
Februari sampai tanggal 3 Februari 2017. Para siswa memikirkan tentang sebuah
kenang-kenangan yang tak terlupakan kepada sahabat-sahabat dan teman-teman. Karena
perjalanan selama 3 tahun bersama akan berakhir. Namun yang dinamakan
kebersamaan itu terbelah menjadi 2. Antara yang ikut study tour dan yang tetap di sekolah. Perbedaan itulah yang
sehingga tulisan ini akhirnya dibuat. Ini demi kebersamaan dan keadilan kita semua.
Mereka
yang mengikuti study tour pergi
menjelajahi Samarinda-Bontang-Tenggarong, tetangga dengan kota Balikpapan.
Perjalanan itu akan menjadi kisah yang tidak akan terlupakan. Teman-teman,
sahabat-sahabat, dan guru-guru akan menjadi kebersamaan yang akan selalu
dikenang.
Namun
bagaimana denagan para siswa yang tidak mengikuti study tour? Apakah mereka jauh dengan nilai kebersamaan? Akhirnya
terjadilah kejadian ini. 3 dari 10 orang siswa kelas 9 memilih untuk tidak ikut
study tour.
Orang tua
menyesali kejadian ini. Study tour
yang dilaksanakan itu tidak sesuai dengan pikiran dan harapan sebagian orang
tua. Perjalanan Balikpapan-Samarinda-Bontang-Tenggarong terlalu panjang dan
menguras banyak waktu sehingga para siswa nanti mungkin bisa lelah. Kegiatan
tersebut juga berdekatan dengan Ujian Nasional. Uang sebesar 1.450.000 terlalu
besar untuk kunjungan di dalam provinsi. Dan kegiatan tersebut cenderung banyak
bersenang-senang. Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat?
Dan
akhirnya terjadilah 2 kelompok yang berbeda agenda. Antara study tour dan study school.
Study tour pergi ke luar kota, dan study school tetap berada di sekolah
tidak mengikuti study tour.
Ketika
siswa yang mengikuti study tour pergi
mengelilingi Provinsi Kalimantan Timur, berkunjung ke masjid tua, makan malam
di restoran, main-main di pantai, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Siswa yang
mengikuti study di sekolah tetap
senang dan bahagia. 3 hari yang sangat istimewa saat itu bersama sebagian
orang. Kebersamaaan yang tidak akan bisa didapatkan oleh sebagian besar yang
lainnya. Mereka tidak belajar mata pelajaran sekolah. Otak sangat pekat jika terlalu
belajar pelajaran UN atau sekolah. Mereka malah belajar tentang motivasi
rohani, cara menikmati Al-Qur’an, tentang otak, cara menghadapi UN, dan
kegiatan seru lainnya.
Mungkin
sangat berbeda rasa kebersamaan antara yang ikut study tour dan yang tidak ikut study
tour. Tetapi semua itu tidak mengapa. Kebersamaan itu di dalam hati, apa gunanya
kalau masih bertengkar, masih berkelahi, dan masih menyimpan dendam. Buang itu
semua!
Semoga
kita sadar bahwa hidup haruslah terus berkerja sama. Maka pentingnya kebersamaan
itu. Orang tua harus tahu apa yang terbaik buat anak anaknya. Jangan sampai
mereka memilih kesenagan dari pada harapan. Pengurus harus mengerti apa yang
seharusnya bermanfaat. Adanya study tour
dan study school membuat terpisahnya
agenda kebersamaan. Agenda kebersamaan harus dibuat agar semua orang bisa
mengikutinya. Waktu, uang, temapat, acara, dan kegiatan haruslah sesuai dengan
para siswa. Kegiatan yang dilakukan juga harus bermanfaat.
Sejatinya,
tidak ada masalah antara study tour
dan study school. Semua hanya karena
perbedaan sudut pandang. Sudut pandang study
tour tentu akan merasa ini sebuah moment terindah dan memberi banyak nilai
tambah untuk sebuah kegiatan kebersamaan selama 3 tahun di SMPIT Al-Auliya.
Sementara sudut pandang study school
akan merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Terima kasih kepada
guru-guru yang tetap ikut berpartisipasi memberi kegiatan yang kreatif.
Jadi,
perbedaan sudut pandang ini jangan membuat kita juga berbeda. Anggap ini adalah
sebuah kekayaan di sekolah kita dan bisa kita saling menghargai atas sikap yang
kita ambil. “Perbedaan itu rahmat” (Hadits).
"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, karena engaku tak duduk disampingku kawan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar