Sabtu, 04 Februari 2017

Study Tour vs Study School
          Study tour dilaksanakan pada tanggal 1 Februari sampai tanggal 3 Februari 2017. Para siswa memikirkan tentang sebuah kenang-kenangan yang tak terlupakan kepada sahabat-sahabat dan teman-teman. Karena perjalanan selama 3 tahun bersama akan berakhir. Namun yang dinamakan kebersamaan itu terbelah menjadi 2. Antara yang ikut study tour dan yang tetap di sekolah. Perbedaan itulah yang sehingga tulisan ini akhirnya dibuat. Ini demi kebersamaan dan keadilan kita semua.
          Mereka yang mengikuti study tour pergi menjelajahi Samarinda-Bontang-Tenggarong, tetangga dengan kota Balikpapan. Perjalanan itu akan menjadi kisah yang tidak akan terlupakan. Teman-teman, sahabat-sahabat, dan guru-guru akan menjadi kebersamaan yang akan selalu dikenang.
          Namun bagaimana denagan para siswa yang tidak mengikuti study tour? Apakah mereka jauh dengan nilai kebersamaan? Akhirnya terjadilah kejadian ini. 3 dari 10 orang siswa kelas 9 memilih untuk tidak ikut study tour.
          Orang tua menyesali kejadian ini. Study tour yang dilaksanakan itu tidak sesuai dengan pikiran dan harapan sebagian orang tua. Perjalanan Balikpapan-Samarinda-Bontang-Tenggarong terlalu panjang dan menguras banyak waktu sehingga para siswa nanti mungkin bisa lelah. Kegiatan tersebut juga berdekatan dengan Ujian Nasional. Uang sebesar 1.450.000 terlalu besar untuk kunjungan di dalam provinsi. Dan kegiatan tersebut cenderung banyak bersenang-senang. Apakah ada kegiatan yang lebih bermanfaat?
          Dan akhirnya terjadilah 2 kelompok yang berbeda agenda. Antara study tour dan study school. Study tour pergi ke luar kota, dan study school tetap berada di sekolah tidak mengikuti study tour.
          Ketika siswa yang mengikuti study tour pergi mengelilingi Provinsi Kalimantan Timur, berkunjung ke masjid tua, makan malam di restoran, main-main di pantai, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Siswa yang mengikuti study di sekolah tetap senang dan bahagia. 3 hari yang sangat istimewa saat itu bersama sebagian orang. Kebersamaaan yang tidak akan bisa didapatkan oleh sebagian besar yang lainnya. Mereka tidak belajar mata pelajaran sekolah. Otak sangat pekat jika terlalu belajar pelajaran UN atau sekolah. Mereka malah belajar tentang motivasi rohani, cara menikmati Al-Qur’an, tentang otak, cara menghadapi UN, dan kegiatan seru lainnya.
          Mungkin sangat berbeda rasa kebersamaan antara yang ikut study tour dan yang tidak ikut study tour. Tetapi semua itu tidak mengapa. Kebersamaan itu di dalam hati, apa gunanya kalau masih bertengkar, masih berkelahi, dan masih menyimpan dendam. Buang itu semua!
          Semoga kita sadar bahwa hidup haruslah terus berkerja sama. Maka pentingnya kebersamaan itu. Orang tua harus tahu apa yang terbaik buat anak anaknya. Jangan sampai mereka memilih kesenagan dari pada harapan. Pengurus harus mengerti apa yang seharusnya bermanfaat. Adanya study tour dan study school membuat terpisahnya agenda kebersamaan. Agenda kebersamaan harus dibuat agar semua orang bisa mengikutinya. Waktu, uang, temapat, acara, dan kegiatan haruslah sesuai dengan para siswa. Kegiatan yang dilakukan juga harus bermanfaat.
          Sejatinya, tidak ada masalah antara study tour dan study school. Semua hanya karena perbedaan sudut pandang. Sudut pandang study tour tentu akan merasa ini sebuah moment terindah dan memberi banyak nilai tambah untuk sebuah kegiatan kebersamaan selama 3 tahun di SMPIT Al-Auliya. Sementara sudut pandang study school akan merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Terima kasih kepada guru-guru yang tetap ikut berpartisipasi memberi kegiatan yang kreatif.

          Jadi, perbedaan sudut pandang ini jangan membuat kita juga berbeda. Anggap ini adalah sebuah kekayaan di sekolah kita dan bisa kita saling menghargai atas sikap yang kita ambil. “Perbedaan itu rahmat” (Hadits).

"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, karena engaku tak duduk disampingku kawan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar